My Sister my inspiration

my sister

my sister

Heeeeey, teman-teman. apa kabaaaarrr. setelah aku membaca pengumuman lomba yang ada disini. tiba-tiba saja, semangat menulisku begitu menggelora. dan tadaaaaaa, akhirnya selesei juga tulisan ini hihihi.

kita baca yuks.

O’ya ada yang bilang. Bahwa semua perempuan itu cerewet?

Woy, siapa bilaaaang!!!

Rasanya aku ingin sekali menamparnya pada siapa saja yang mengikrarkan bahwa seluruh perempuan itu cerewet. Tidak. Sama sekali aku tidak menyetujuinya. Walaupun aku sebagai seorang laki-laki tapi aku punya sebuah kekaguman yang sangat tinggi terhadap saudara perempuanku. Oke, kita semua tahu bahwa memang. Ya, memang pada umumnya perempuan bahkan beberapa perempuan biasanya terkesan cerewet, banyak omong dan selalu lebih besar untuk menyalahkan orang lain daripada mengintrospeksi diri? Tentu saja iya. Memang, aku selalu menyaksikan perempuan-perempuan di sekitarku sebagai manusia bermulut ember dan paling susah mengendalikan emosi. Apa saja selalu di omongkan, hal besar bahkan hal-hal sepelepun selalu di buat heboh dengan mulut-mulut ember perempuan itu ~kadang~ sangat menyebalkan sekali untuk para perempuan yang bermulut ember seperti itu.

df-kartini3Awalnya aku memang selalu menganggap bahwa semua perempuan di dunia itu bermulut ember dan selalu berbicara hal-hal yang tidak penting. ”Namanya juga perempuan,” biasanya selalu ada pembelaan seperti itu. Bahkan bagi laki-laki yang cerewet dan banyak ngomong selalu mendapat julukan pedas sebagai lelaki bermulut perempuan? Memang karena ya pada umunya mulut perempuan selalu bersikap ember dan blak-blakan, banyak ngomong, banyak mengeluh dan… banyak membicarakan hal tidak penting menjadi sebuah gosip yang sangat heboh. Tapi semua teori itu terpatahkan sudah. Saat aku tinggal bersama saudara perempuanku, Manah Rosmanah.

Berawal aku mulai kuliah di Palembang, saat itu aku di takdirkan tinggal bersama saudara perempuanku, Manah Rosmanah. Beliau adalah seorang dosen di kampus tempatku kuliah. Sebuah kebetulan juga yang membuatku harus tinggal bersamanya.

Awalnya aku mengira bahwa tinggal bersama saudara perempuan akan selalu mendapat kata-kata pedas : ketika saya malas, ketika saya jorok, ketika saya tidak membantunya dan lain-lain. Saya sudah memperkirakan banyak hal, segala sesuatu yang berkaitan dengan mulut ember perempuan. Dan ternyata? Oh TIDAK. Aku tidak menemukan bentuk mulut ember itu pada saudara perempuanku. Baik ketika aku malas membantunya, atau ketika aku begitu bodohnya membiarkan hasil masakanku gosong seperi bata goreng? Tidak. Aku tidak sedikitpun menemukan ocehan yang ia lontarkan padaku.

Melihat Mbak Manah Rosmanah adalah selalu membuatku berdecak kagum. Dia sungguh jauh berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ketika perempuan-perempuan yang lain itu hoby bergosip dan sibuk cas cis cusss membicarakan masalah orang –yang tidak penting-. Maka tidak berlaku untuk mbak Manah itu. awalnya aku kira, dia hanya jaim saja. Jaga imej, karena aku tinggal bersamanya? Ternyata tidak. Kenapa saya berani berkata tidak? Karena Biasanya orang yang berpura-bura itu tidak akan bertahan lama, paling lama sebulan. Bila kita selalu bersamanya. Maka kita akan melihat karakter aselinya beberapa bulan kemudian. Ya, begitulah memang keadaanya. Dia selalu bersikap apa adanya dan satu hal yang selalu membuatku kagum. Dia tidak pernah se-cerewet perempuan pada umumnya, dia tidak pernah terdengar membicarakan orang lain, dia tidak pernah terdengar menggosip. Tidak. Sama sekali aku tidak pernah melihat kekurangan pada perempuan hebat itu.

Suatu ketika. Ihsan, anak ketiganya yang berusia 5 tahun itu menumpahkan susunya dari gelas secara tidak sengaja. Mungkin bagi para ibu-ibu yang lain. Akan mengomel. ”Aduuuuh, kenapa bisa tumpaaaah.” atau ”Makanyaaaa, habisin dulu susunya, kamu sih kebanyakan maennya.” Mungkin kebanyakan ibu-ibu atau perempuan pada umunya akan berkata seperti itu: menyelahkan dan paling tidak memarahi anak itu. Tapi, oh tidak. Sangat tidak berlaku bagi mbak Manah Rosmanah. Dia selalu berbuat lembut terhadap putra kesayanganya. Lalu apa yang dia lakukan ketika melihat gelas susu anaknya tumpah??? Dia mendekati Ihsan. Dengan senyuman yang tulus. Dia memegang pipi anaknya, dengan penuh kasih sayang diapun berkata. ”Sayaaang, boleh minta tolong ambilin lapnya nggak?” dan Ihsan pun langsung membersihkan lantainya sendiri. Oh hebaaaaat. Hebat sekali. Ihsan membersihkannya sendiri? Kenapa? Karena anak sekecil itupun tidak mau melukai bundanya yang sungguh baiknya minta ampun.

Di kasus yang lain. Saat mbak Manah sibuk mengetik, tak tik tuk di atas keyboard komputernya. Tiba-tiba Zaki anak ke limanya menhampirinya sambil berkata. ”Bundaaa, buuund. Tolong dong ceritain adik. Aku pengen cerita yang ini,” teriak Zaki sambil menunjukan buku bergambar ikan warna-warni. Lalu apa yang di lakukan bundanya? Dia bangkit. Dengan senyuman yang super khas sekali. Dia mengeloni anaknya sambil membacakan isi bukunya dengan lembut. Lagi-lagi aku terkagum-kagum. Maka sejak saat itu aku bertekad dalam hidupku. Jika aku sudah mempunyai seorang anak, maka akan ku lakukan seperti yang mbak Manah lakukan. Mendidik anak dengan penuh kasih sayang, tanpa sedikitpun amarah dalam gurat wajahnya. Sesosok Mbak Manah akan selalu membuatku bersalah jika aku lupa membantunya. Sesosok Mbak Manah membuatku ingin meneteskan air mata jika aku lupa memasakan air panas untuk susu anaknya. Selalu membuatku penuh kebersalahan jika aku sedikit saja membuat dia terluka. Aku tidak mau melukai hatinya sedikitpun. Thanks for my sister. Engkau adalah cahaya yang menerangi lorong-lorong gelap hatiku. Selamat hari kartini untuk kakaku yang sangat aku cintai. I love you so much. Engkau adalah sumber inspirasiku. Sungguh.

o’ya terima kasih kepada blogdetik yang sudah mengadakan lomba, hehehe semangat menulisku kembali bergelora setelah membaca pengumuman lomba ini. sekali lagi thanks untuk semuanya.

Comments (9)

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Comments (2)